jump to navigation

Ada Apa, Iz? 03/01/2010

Posted by F4iz in bebas.
20 comments

“Aku paling tidak suka sama orang yang tidak menghormati hak orang lain.”

“Ada apa, Iz? Kok kelihatan kesal banget?”

“Banget, Cin!”

“Iya, kenapa?”

“Itu si Rima tidak mau hengkang dari kamarku. Dengan seenaknya dia belajar di kamarku, tanpa memperhatikan privasiku. Setiap aku dan Lili bilang untuk belajar di kamarnya sendiri, dia bilang tidak suka kamarnya. Saking kesalnya aku kunci kamar dari luar, dan membiarkan dia belajar di dalamnya.”

“Aduh! Kok tega kamu, Iz. Gimana kalau dia ingin ke kamar kecil?”

“Habis gimana lagi? Sudah sekian peringatan aku dan Lili sampaikan. Tapi, kayaknya tidak membuatnya jera.”

“Sudah kamu coba ngobrol baik-baik dengannya?”

“Sudah, Cin. Tapi kayaknya masuk telinga kanan dan keluar lagi dari telinga kirinya.”

“Iya, tapi tidak seharusnya kamu menguncinya kan?”

“Iya, aku akui, aku tergesa-gesa mengambil keputusan itu.”

“Nah gitu dong! Setelah ini jangan lupa Mintalah maaf darinya. Kemudian bicaralah dengan cantik dan elegan!”

“Oke!”

Iklan

Yup Tepat Sekali! 02/01/2010

Posted by F4iz in Kupas.
5 comments

“Hari ini banyksekali kejutan yang membuatku ngeri setengah mati”

“Kejutan apa, Iz.”

“Ayah Fakhir mengingatkan akan kehidupan akhirat, Cin.”

“Apa yang membuatmu ngeri? Bukankah sudah sering kamu dengar?”

“Iya, tapi kalau ayah Fakhir yang memberitahu akan berbeda. Rambut halus yang menumbuhi permukaan kulit juga ikut bergetar.”

“Gimana ceritanya, Iz”

“Dia mengisahkan pingsannya Abu Hurairah setiap menyampaikan hadits tentang keutamaan niat dalam setiap aktivitas ibadah dan muamalah kita”

“Apa bunyi haditsnya, Iz?”

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah, berkata: Saya mendengar dari Rasulullah SAW: Bahwa orang pertama yang akan disiksa di hari kiamat adalah orang syahid, penuntut ilmu, pembaca al-Qur’an dan para pemberi infaq. Kemudian mereka datang dengan amal kesyahidannya, dengan ilmu, dengan al-Qur’an yang dibacanya, dan dengan harta yang diinfaqkannya. Allah bertanya kepada mereka, apa gerangan motivasi mereka masing-masing. Mereka menjawab motivasinya adalah untuk mendapat keridlaan Allah. Namun Allah menjawab bahwa mereka berbohong, karena mereka melakukan semua itu agar orang mengatakan bahwa mereka pemberani, mereka pembaca Al-Qur’an, mereka penuntut ilmu, dan mereka dermawan. Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeret mereka dan melemparkannya ke neraka.”

“Ya Allah, ampuni kami. Merinding sekali aku mendengarnya.”

“Yang membuatku heran dan tidak habis pikir adalah, mengapa kita tidak sampai pingsan mendengar hadits tersebut? tidak seperti Abu Hurairah Ra.”

“Itu tandanya iman kamu harus terus kamu awasi, harus terus kamu charger tuh kamu punya iman. Perbaharui dan tata selalu niatmu.”

“Dahsyat sekali iman mereka para sahabat Rasulullah.”

“Begitulah kenyataannya, jadi tidak heran Rasulullah mendeklarasikan masa hidupnya dan masa hidup sahabat-sahabatnya merupakan zaman terbaik.”

“Menelusuri kehidupan mereka, seakan kutemukan oase yang lama hilang dari hari-hariku.”

“Hidup dalam kebaikan akan selalu memberi kenyamanan dan ketenangan yang tidak terdefinisikan oleh apapun, karena kenikmatan dunia dan seluruh isinya tidak akan pernah mampu menandinginya.”

“Yup, tepat sekali. Semoga Allah tidak melarangku untuk merasakan karunia tertinggi itu. karunia keimanan yang teguh, kuat dan tangguh!”

“Amiin”

Bencilah Mengeluh, Iz! 01/01/2010

Posted by F4iz in Tuntas.
2 comments

“Rasanya pegel semua, Cin”

“Nikmati saja, Iz. Itu berarti tubuhmu lagi ada respon positif. Ada proses peremajaan sistem. Selain juga akumulasi penat yang menuntutmu untuk berhenti sejenak. Kesempatan emas untuk merenungi lebih dalam, semakin dalam, menggali lebih dalam kedewasaan dan hikmah hidup.”

“Sakit, Cin. Kok dinikmati. Gimana caranya?”

“Caranya sabar. Pikirkan saja nikmat yang kamu dapatkan sekian hari. Pasti rasa sakit yang kamu rasa tidak akan punya arti apa-apa. Dibandingkan karunia melimpah yang terus menerus kamu rasa dan nikmati. Bahkan dalam keadaan sakit pun karunia itu tidak kenal kata henti diberikan kepadamu. Bencilah mengeluh, Iz! Agar sakit yang kamu rasa itu tidak menutup mata hatimu untuk mensyukuri karunia yang terus-menerus itu!”

“Mudah sekali berteori. Tapi, prakteknya pasti tidak semudah teori indah itu.”

“Akan jauh lebih indah jika kamu tidak menghentikan ‘mencoba’!”

“Andai aku bisa, Cin!”

“Jauhi kata ‘andai’! Karena hanya akan memberikan persepsi bahwa teori itu hanya utopis belaka.”

“Oh ternyata tidak ringan menjadi orang baik ya?”

“Buang kata ‘tidak’. Pasti ringan dan mudah!”

“Iya ya.”

Siip!! 31/12/2009

Posted by F4iz in Uncategorized.
6 comments

“Satu per satu usia ditutup. Peranpun berakhir. Usia yang masih membentang datang mengganti peran.”

“Apa maksud ceracaumu itu, Iz?”

“Seorang mantan kepala suku di negeri dongeng. Jatah usianya sudah dicabut, Cin.”

“Owh. Kirain ada apa?”

“Tidak ada apa-apa, cuma aku mencoba bercermin pada peristiwa yang beberapa hari belakangan ini kerasa menyentak. Kaget.”

“Sudah sunnatullah kali, Iz. begitu adanya dipergilirkan. Pada saatnya nanti kamu juga akan mendapat giliranmu.”

“Iya, Cin. Akan aku coba ingat selalu itu!”

“Siip! Sudah berhasil mengungkap maknanya?”

“Belum. masih saja sporadis dalam memaknai harinya.”

“Tidak apa-apa. Asal tidak berhenti saja!”

Pasti Mudah! 30/12/2009

Posted by F4iz in bebas.
2 comments

“Apakah kamu sudah merasa berarti, Iz?”

“Masih jauh kayaknya kata berarti itu dariku, cin.”

“Apa parametermu untuk mengukur keberartianmu?”

“Jika aku lebih baik dari kemaren, serta besok lebih baik dari hari ini”

“Parameter yang mengena dan tepat, Iz! Cuma selain itu, keberartian juga harus bukan kamu saja yang merasakannya.”

“Untuk berarti, tidak mudah juga ya!”

“Iya tidak mudah. Dengan menyisakan kata ‘mudah’ dan membuang kata ‘tidak’, pasti mudah! insya Allah!

“Hadir, Cin.”

Maksudnya??? 29/12/2009

Posted by F4iz in bebas, Lepas, Tuntas.
6 comments

“Ketika lelah dapat terbayar dengan lapang dan siap menerima semua resiko yang akan terjadi. Seketika takut, ragu, dan gamang itu akan enggan mendekat.”
“Hmm, dapat dari mana kalimat bagus itu?”
“Dari rahim hari-hariku yang berliku.”
“Kalimat yang bias dan ambigu!”
“Maksudnya???”
“Aku tidak paham dengan kalimatmu itu?”
“Haha… Kamu ini lucu sekali, tidak paham tapi sudah berkesimpulan kalimatku bagus?”
“Eit, Cin. Tertawa tuh harus sopan. Apalagi menertawakan aku yang blo’on ini.”
“Ups, Iz. Siapa yang bilang kamu blo’on? Bukannya kamu sudah sepakat untuk tidak memasang pada diri orang lain stempel negatif, apalagi pada dirimu sendiri?”
“Iya, tapi kenyataannya aku tidak paham, Cin.”
“Redaksinya diganti belum paham, Iz.”
“Apa bedanya, Cin??”
“Jika kamu mengatakan ‘tidak’, maka secara otomatis akan menghakimi dirimu untuk menutup peluang bagi kata ‘paham’ untuk bekerja menjadikanmu benar-benar paham. Berbeda jika kamu mengatakan ‘belum’, maka kamu akan memberikan peluang bagi kata ‘paham’ untuk sebuah jalan yang akan membuatmu benar-benar paham.”
“Owh, ternyata ada pengaruhnya ya?”
“Ya iyalah, masak ya iya dong..”
” 🙂 ”

Lagi Bingung, Cin! 28/12/2009

Posted by F4iz in Lepas.
Tags: ,
8 comments

“Lagi apa, Iz?”

“Lagi bingung, Cin!”

“Bingung kenapa?”

“Belum tahu bingung kenapa? Bingung mau menulis apa kali ya, Cin?”

“Hihihi, kamu ni, Iz. Ada ada aja. Tidak menulis juga tidak akan ada yang marah kok.”

“Iya juga sih, tapi, belum lengkap rasanya kalau aku tidak menulis.”

“Ya sudah menulis saja, siapa yang melarang?”

“Sebetulnya tidak ada yang melarangku menulis, tapi kebuntuanku saja yang membuat aliran kata-kataku tersumbat.”

“Kata-katamu tersumbat, karena kamu makan terlalu banyak kali, atau mungkin karena keingananmu terlalu tinggi untuk melakukan segalanya dengan cepat dan sempurna.”

“Apa hubungannya keinginan dengan tersumbatnya aliran kata-kataku?”

“Hubungannya adalah satu keinginanmu belum kamu capai, kamu menginginkan sesuatu yang lain. Sehingga kebuntuan berpikir, kebuntuan mendefinisikan suatu permasalahan akan akrab kamu temui.”

“Hmm, aku belum paham dengan penjelasanmu, Cin.”

“Owh, kalau begitu coba kamu inventarisir keinginanmu satu persatu, lalu coba susun keinginanmu sesuai peringkat energi dan kemampuan yang kamu miliki. Lalu mulai upayamu untuk merealisasikan satu persatu keinginan menurut peringkat tersebut.”

“Belum sepenuhnya paham sih, Cin. Tapi coba aku ikuti saranmu itu.”

Hmm, Sedapnya..:) 27/12/2009

Posted by F4iz in Lepas.
Tags: , , , , , , ,
3 comments

“Riang terlihat menghias wajah-wajah teman-temanku malam ini.”

“Ada apa gerangan, Iz?”

“Biasa efek menu berbuka puasa maghrib tadi. Kita mendapat makanan yang tidak biasa, Cin.”

“Makanan apa yang kalian dapatkan, Iz?”

“Sepotong ayam panggang dari tetangga sebelah kiri asrama.”

Menu Besar Penghuni Asrama

“Hmm, sedapnya….”

“Itulah makanan besar kami di asrama, kami bisa menikmatinya pada moment iftar jama’i aja. Selain itu kami harus menikmati masakan ala bisa kami memasaknya.”

“Bersyukurlah punya tetangga yang peduli dengan kamu dan teman-temanmu di asrama”

“Alhamdulillah, semoga Allah menerimanya sebagai amal yang pantas diterimanya. Semoga puasa kita Allah terima, taqabbalallahu minna wa minkum. Sehinnga dapat menjadi penghapus sekian dosa yang telah kita goreskan dalam lembar amal kita, selama satu tahun yang lalu. Amiiiiin…”

Pasti Kamu Bisa! 26/12/2009

Posted by F4iz in Lepas.
Tags: , , , ,
10 comments

“Setelah cukup teratur dan tenang melakukan aktivitas, selalu saja belum sempurna rasanya usahaku untuk memenuhi target hari-hariku.”

“Satu kata untukmu, Iz. S A B A R!”

“Aku belum sabar bagaimana lagi, Cin.”

“Keluhan yang terlontar itu buktinya. Semestinya kamu sadar, Iz. Materi ujian di akhirat kelak itu terdiri dari bagaimana kamu menghabiskan waktu tenang dan bahagiamu. Serta juga waktu amburadul, sedih dan susahmu. Apakah syukur menyertai waktu bahagia dan luangmu? Atau sebaliknya? Apakah sabar menyertai waktu amburadul, sempit, sedihmu?”

“Lalu kenapa aku disuruh bersabar ketika aku merasakan ketenangan dan menikmati waktuku?”

“Karena nada bicaramu mengandung ketergesaan untuk melihat dan merasakan hasil dari upayamu. Penting juga kamu ingat, kamu itu manusia bukan malaikat, jadi tidak akan pernah bisa sempurna.”

“Aku belum sepenuhnya paham dengan apa yang kamu katakan, Cin?”

“Begini saja, Iz. Kamu jalani saja hidupmu, jangan pedulikan apakah kamu telah menjalaninya dengan sempurna atau tidak. Kesempurnaan itu milik Allah semata. Bukan milik manusia. Memenuhi syarat-syarat menjadi orang baik, sertakan syukur dan sabar pada setiap detik kehidupanmu, insya Allah lapang, kenikmatan dan kemudahan akan menjadi instrumen indah bagi hidupmu.”

“Sangat mudah sekali diucapkan, tapi tidak mudah untuk dilakukan.”

“Kurangi mengeluh, pasti akan mudah.”

“Oh mengeluh, andai aku bisa tidak mengeluh lagi, Cin.”

“Pasti kamu bisa! Harus kamu coba dan paksa dirimu untuk bisa!

“Semoga aku bisa, Cinta!”

“Kamu bisa, Iz!”

“Insya Allah.”

Jangan Dulu Nangis, Iz! 25/12/2009

Posted by F4iz in Tuntas.
Tags: , , ,
2 comments

Tetes Sesal


“Iz, aku punya cerita menarik.”

“Cerita apa, Cin?”

“Tentang evaluasi diri”

“Gimana ceritanya?”

“Ada seseorang yang suatu hari mengevaluasi dirinya. Pada waktu itu dia berumur enam puluh tahun. Dia menghitung harinya, dan didapati dirinya berusia dua puluh satu ribu hari. Kemudian dengan nada berteriak dia berkata: “Celakalah aku, akan bertemu Tuhanku dengan dua puluh satu ribu dosa? Bagaimana jika setiap harinya ribuan dosa yang telah aku lakukan? Kemudian dia tidak sadarkan diri.”

“Hiks… Hiks… Lalu bagaimana dengan aku, Cin.”

“Jangan dulu nangis, Iz! Coba kamu hitung saja (Kalau mampu). Setiap udara yang kamu hirup terdapat amanah syukur yang terhitung detail, dan hari-hari yang kamu lalui juga terhitung dan tercatat rapi. Seberapa luka yang telah kamu goreskan dalam kehidupan beragamamu? Sudah berapa kali kamu membakar baju keimananmu dan kamu tidak menyadarinya? Betapa kesempatan untuk melakukan kebaikan begitu terbuka luas, tapi kamu sia-siakan? Kamu kumpulkan kebaikan, tapi begitu mudahnya kamu buang dengan mempraktekkan ghibah?”

“Air mataku tidak dapat aku cegah untuk mengalir, Cin. Pertanyaanmu itu begitu menusuk!”

“Syukurlah kalau begitu. Kita harus sadar, Iz. Bahwa hari terus berlalu, halaman-halaman amal kita juga tidak berhenti mencatat setiap kata, lintasan pikiran terbersit dan guman hati yang terbetik. Tahun juga terus berganti. Setiap kita dapat dipastikan mampu untuk mengevaluasi dirinya sebelum dievaluasiNya di kampung akhirat kelak.

Pertanyaan penting yang harus kemudian kamu jawab adalah: Persiapan apa saja yang telah kamu siapkan untuk kehidupan abadi itu? Apa yang telah kamu persembahkan untuk diri kamu untuk mendapati pahala dan kebaikan di sisiNya kelak? Jejak apa saja yang telah kamu rekamkan dalam lembaran-lembaran amalmu? Bekal apa saja yang telah kamu persiapkan untuk kehidupanmu di lubang yang akan menjadi tempatmu sebelum hari perhitungan itu?”

“Terima kasih, Cin. Pertanyaan-pertanyaan yang akan membantuku dalam mengevaluasi diriku.”

“Afwan, Iz. Teruslah evaluasi dirimu, hingga kamu mendapati cahaya hikmah yang akan memberimu kemampuan untuk membedakan antara yang benar dan yang bathil. Berprasangka negatif terhadap jiwamu akan membantumu mawas diri.”

“Insya Allah, Cin.”